Meriam Bambu: Meriahkan bulan puasa dan hari raya

Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Melayu serumpun. Permainan ini harus terus dijaga kelestariannya supaya tidak punah meskipun di zaman sekarang, terutama di kota-kota besar, tradisi permainan meriam bambu sudah mulai sulit ditemukan, selain karena tergeser oleh berbagai macam jenis permainan modern juga karena sulit didapatnya bahan-bahan untuk membuat meriam bambu ini yang berasal dari bahan-bahan yang disediakan oleh alam”

Meriam bambu merupakan salah satu permainan perang-perangan yang sering di mainkan oleh para kaum pria saat bulan ramadhan, di Aceh permainan ini disebut dengan istilah te’t Beude trieng, di berbagai daerah lain di indonesia permainan ini dikenal juga dengan nama bedil bambu, mercon bumbung, long bumbung, dan seterusnya. Permainan meriam bambu ini biasanya dimainkan oleh anak-anak laki-laki dalam rangka memeriahkan bulan puasa, menjelang hari raya

Asal-usul pemainan meriaml bambu diperkirakan terinspirasi dari senjata yang digunakan oleh bangsa Portugis ketika berupaya menduduki wilayah nusantara pada abad ke-6 Masehi. Meriam adalah salah satu senjata modern yang dimiliki oleh Portugis. Bagi kalangan pribumi pada masa itu, kehadiran meriam menjadi perhatian tersendiri. Orang-orang pribumi yang melancarkan perlawanan terhadap Portugis kala itu sangat takjub dan terheran-heran melihat keampuhan meriam yang bisa melontarkan bola-bola panas dan mampu menimbulkan efek merusak yang sangat mematikan.

Permainan ini memang melekat pada masyarakat melayu, hampir seluruh daerah di nusantara ini memainkan permainan perang-perangan ini. Pada prinsipnya, permainan meriam bambu sebenarnya bukan tergolong dalam permainan yang bersifat kompetisi, melainkan hanya untuk hiburan semata. Tidak hanya itu, permainan meriam bambu sudah menjadi tradisi sepanjang bulan Ramadan dan hari raya.

Aceh yang menjadi salah satu pusat peradaban Melayu, juga tetap melestarikan tradisi memainkan meriam bambu. Untuk menyambut Idul Fitri, misalnya, masyarakat Aceh di sejumlah wilayah menyulut meriam bambu dari malam hari seusai shalat tarawih hingga menjelang waktu sahur. Acara membunyikan meriam bambu di awal bulan Ramadan dan di hari-hari terakhir puasa untuk menyongsong Lebaran telah menjadi tradisi masyarakat Aceh sejak dari dulu.

Bahkan, dalam rangka diselenggarakannya perhelatan meriam bambu yang diadakan secara massal ini, masyarakat Aceh tidak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan acaranya. Puluhan atau bahkan ratusan batang bambu digunakan sebagai bahan pembuat meriam bambu demi meramaikan suasana Ramadan dan Lebaran. Puncak acara membunyikan meriam bambu terjadi pada malam takbiran atau malam menjelang Lebaran di mana ratusan penduduk di berbagai tempat di wilayah Aceh akan berbondong-bondong menyaksikan acara yang meriah ini.

Sedangkan mengenai tempat yang digunakan untuk membunyikan meriam bambu bisa bermacam-macam. Umumnya, meriam bambu diletakkan secara berjajar di sepanjang tepi sungai dan kemudian disulut secara bergantian. Secara umum, meriam bambu dibunyikan di tempat-tempat yang luas dan jauh dari pemukiman penduduk, seperti di lapangan, di kebun, di sawah, di ladang, dan lain sebagainya.

Untuk memainkan meriam bambu ini sebaiknya dilakukan oleh orang laki-laki dewasa karena memang sangat berbahaya. Namun pada kenyataannya, banyak juga kaum remaja, bahkan anak-anak yang senang memainkan meriam bambu ini. Meskipun bisa membahayakan, namun tampaknya permainan meriam bambu ini sudah menjadi kelaziman di kalangan masyarakat Aceh untuk memeriahkan bulan Ramadan dan hari raya.

 

  • Cara pembuatan beude trieng (meriam Bambu)

Sesuai dengan namanya, bahan utama untuk membuat meriam bambu adalah batang pohon bambu. Usia batang bambu, ukuran besar diameter bambu, dan ukuran panjang batang bambu akan mempengaruhi keras atau tidaknya letusan. Semakin tua usia bambu dan semakin besar diameter bambu, maka akan semakin keras pula ledakan yang nantinya dihasilkan. Selain bambu sebagai bahan utamanya, ada beberapa peralatan lainnya yang harus disiapkan untuk membuat meriam bambu, antara lain:

  • parang untuk menebas dan membersihkan batang bambu
  • tali atau karet yang diambil dari ban motor bagian dalam untuk mengikat batang bambu
  • linggis untuk melubangi bambu
  • secarik kain
  • sebatang kayu kecil untuk menyulut meriam bambu
  • serta minyak tanah atau karbit yang ditambahkan dengan air dan garam sebagai bahan bakarnya.

Cara pembuatan meriam bambu adalah, mula-mula siapkan batang bambu dan potong dengan ukuran panjang sesuai selera, tapi biasanya antara 1,5-2 meter atau 3-4 ruas, dan diameter berukuran sekitar 4 inci. Kemudian, permukaan batang bambu dilubangi dengan jarak sekitar 10 cm dari pangkal batang bambu. Besarnya diameter lubang dikira-kira sebesar ibujari. Lubang inilah yang akan menjadi tempat untuk menyulut meriam bambu.

Langkah selanjutnya adalah ikat kuat-kuat sekitar sambungan ruas bambu dengan tali atau karet ban untuk memperkuat kapasitas bambu dari tekanan tenaga yang dihasilkan ketika disulut. Sambungan ruas di antara pangkal dengan ujung meriam kemudian dilubangi dengan menggunakan linggis. Sambungan ruas bagian dalam harus dipastikan dilubangi dengan baik dan hampir rata dengan diameter bambu. Hal ini sangat penting agar tekanan yang dihasilkan tidak tertahan sehingga membuat bambu mudah pecah ketika dibunyikan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s