Ekspansi Indomaret Di Bumi Iskandar Muda

Sudah tidak asing pastinya saat mendengar kata Indomaret, ya! Salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia kini sudah menjamah bumi Iskandar Muda ini,  mula-mula  mereka hadir dengan 2 gerai yang dibuka petengahan bulan Mei 2012 dan sekarang sudah makin menancapkan taringnya dengan memiliki 7 gerai yang tersebar di seluruh Banda Aceh (Peuniti, Keutapang, Ule Kareng, Punge, Prada, Mata ie Batoh).

Indomaret merupakan salah satu industri ritel atau yang disebut juga bisnis eceran, bisnis ini memang sangat maju pesat sekarang. Hal ini diakibatkan karena industri ritel bersentuhan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari dimana proses perputaran barang dan uang di dalamnya sangat cepat.

Indomaret merupakan jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari yang dikelola oleh PT Indomarco Prismatama, dan toko pertama kali dibuka di daerah Ancol, Jakarta Utara, pada tahun 1988. Hingga tahun 2011 tercatat Indomaret telah memiliki 6003 unit gerai. Dari total itu 3.479 gerai adalah milik sendiri dan sisanya gerai waralaba milik masyarakat, yang tersebar di kota-kota di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali, Lampung dan Medan. Di DKI Jakarta terdapat sekitar 488 gerai.

“mudah dan hemat”. Itulah motto yang coba diberikan oleh Indomaret dimana maksudnya adalah mudah dalam menjangkau gerai mereka karena terletak di tempat yang strategis, dan hemat sudah tentu harga murah yang bisa menarik perhatian para pemburu produk yang Lebih dari 3.500 jenis produk makanan dan non-makanan tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehari-hari.

Kawasan peuniti menjadi salah satu pilihan ekpansi raja perusahaan retail ini di Provinsi Aceh, tepatnya di Jl Makam Pahlawan bersebrangan jalan dengan gedung keuangan negara, dari total 7 gerai di Aceh semuanya adalah milik perusahaan, sedang di beberapa provinsi lain, ada yang milik perusahaan dan ada juga di kelola perorangan dengan cara memakai franchise Indomaret.

Bermacam produk tertata rapi di setiap rak dalam toko berlantai satu itu, bermacam pilihan jenis barang sudah pasti menggiurkan para konsumen yang masuk kedalamnya, mulai dari makanan-makanan sperti snack, roti, atau kebutuhan dapur (minyak goreng, gula, dll) bahkan sampai produk kecantikan juga tersaji lengkap di dalam toko yang berukuran seluas 200 m ini.

M.iqbal salah satu karyawan mengatakan kalau para pembeli sudah banyak yang datang ke toko itu,”tempat kami menjual produk dengan harga yang lebih murah dibanding dengan yang lain, makanya walau masih dalam hitungan bulanan gerai kami ini sudah ramai dikunjungi” ujarnya setengah berpromosi.

Gerai Indomaret di Peuniti ini mulai beraktifitas dari pagi mulai jam 8 sampai jam 10 malam, untuk para karyawannya digunakan sistem kerja shift, yaitu saling bergantian dari pagi sampai siang dan siang sampai malam, begitu dijelaskan oleh M.iqbal.

Masih menurut M.Iqbal yang mengatakan bahwa keberadaan gerai Indomaret di Aceh malah memberikan ruang kerja bagi orang Aceh, “disini aja kami ada 5 orang yang asli Aceh, walau masih harus di bimbing oleh karyawan yang dari Medan yang sudah berpengelaman”.

Jika satu gerai bisa mempekerjakan 5 orang berarti untuk 7 gerai yang ada sudah menyedot tenaga kerja 35 orang, walau angka tersebut belum cukup untuk menuntaskan permasalahan pengangguran di Aceh dan untuk kedepan juga pasti bakalan perlu lebih banyak lagi seiring perkembangan kemajuan Indomaret di Aceh.

Mungkin itu sebagian kecil yang bisa dikategorikan kedalam dampak positif, lantas kita juga harus melihat apa dampak negativnya.

Dampak dari kemunculan Indomaret ini sudah pasti dirasakan oleh para pegiat bisnis ritel yang sudah terlebih dahulu ada di Aceh, baik yang kecil maupun yang besar mau tidak mau masing-masing dari mereka harus saling berperang untuk menarik perhatian para konsumen. Bermacam strategi akan dikerahkan untuk tujuan sama yaitu menarik para pembeli sebanyak-banyaknya.

Persaingan para pengusaha ritel ini mungkin tidak terlalu dipusingkan oleh peritel lokal yang sudah memiliki nama besar mereka sudah pasti bakal mampu bersaing,  namun bagaimana dengan nasib pengusaha ritel yang memiliki modal sedikit yang tergolong ke dalam usaha kecil menengah (ukm).

Menjamurnya perusahaan retail akan menyebabkan para peritel kecil daerah akan mengalami kebangkrutan, sudah pasti mereka akan kalah bersaing dengan para perusahaan-perusahaan besar yang notabene memiliki modal besar, perlu pemikiran lebih lanjut oleh pemerintah untuk mengatur dan membuat regulasi tentang hal ini supaya keberadaan perusahaan-perusahaan besar retail ternama yang sudah beromzet besar itu tidak mematikan usaha kecil menengah masyarakat lokal. (IK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s